Merdeka tanpa meja makan
Aiiiih, berat kayaknya judul nih, rada-rada memasuki wilayahnya poli{tik(us)}, tapi jangan cemas deh… Daffa ga bakal keluar dari garis demarkasi, tidak akan jadi Politikus, takkan jadi Poly apalagi jadi Tikus, meskipun judul ini terinpirasi dari judul sebuah laput (laporan Utama) Majalah Tempo di zaman Orba yaitu “Demokrasi Tanpa Miropon”.
Hari ke 5 Ramadhan bertepatan dengan hari Jum’at, suasana menyambut berbuka puasa di rumahku terasa lain dari hari-hari sebelumnya, di lantai terbentang tikar plastic bermotifkan Donal Bebek yang di domninasi oleh warna biru, mulai biru muda, biru tua sampai biru yang lebih tua ( Biru Nenek-Nenek), sementara di meja makan tak satupun ada kursi yang menjadi tool bagi naik ke atas meja. Di atas tikar itu ada piring, mangkok, sendok, gelas dan sebagainya.
Beberapa menit menjelang bedug tanda berbuka berbunyi, kupegang , kulihat bolak-balik, kuamati , kutokok-tokok sesamanya benda yang ada, ku banting , ku tendang , eh … aneh ga ada saeorangpun yang melarangku. Aku beralih ke meja makan, ku ulurkan tanganku kepermukaan meja meraba apa yang bisa kuraih, eh teraih piring kue kering, Oma membantu agar isinya tidak menimpa kepalaku, kubawa dan kuletakkan di tikar, kugigit salah satu kue yang bulat itu, puuhh ga enak, kuletakkan di lantai kutendang bleeb membentur dinding. Aku mengacungkan tangan ku ke sebuah gelas sambil berkata “ng eh eh eh”, Opa mengambilkannya dan memberikan padaku, wow.. ternyata air kelapa muda, kuletakkan gelasnya di tikar, kusenduk isinya kumasukkan ke setiap wadah yang ada, ga ada yang melarang.
Bedug tanda beruka berbunyi, duk duk duk…., Opa, Oma, Papi, Mami, dan ncle Na mulai berbuka, aku tak pedulikan mereka, aku sibuk sendiri, bebas berkreasi, bebas bersuara, bebas berbuat sepanjang tidak melanggar ketentuan yang memproteksiku dari kejadian-kejadian yang dapat membahayakanku, aku nikmati hal itu, serasa menjadi warga sebuah Negara yang demokrasi. Sepasang demi sepasang mata ( Oma, Opa Mami, Papi dan Ncle Na ) memperhatikan aku bergantian, kadang mereka tersenyum kadang terdiam, hingga Opa meninggalkan tempat berbuka untuk sholat sambil berkata, Daffaaa,…asyik yaaa?… merdeka Daffa yaa?,… merdeka tanpa meja makan. Aku menoleh ke Opa, kuminum air kelapa yang tersisa di gelas, kemudian kutumpahkan dan gelasnya kelempar “ teng kleng kleng kleng kleng…. he he he he… aku tertawa puas.
September 6, 2008 at 2:21 pm
Assalamu’alikum wr. Wb.
perkembangan abad informasi merubah relasi dan komunikasi antar manusia yang awalnya alamiah dan face to face menjadi digitalistik. Tempat dan ruang digantikan oleh ruang vitual.
melalui komunikasi dunia maya ini, mari kita bangun budaya plural yang berbeda dalam sebuah wilayah yang sama: wilayah vitual. Mari kita buka keran-keran keterbukaan untuk pencerahan peradaban. Salam silaturahiem dari-ku; Silaturahiem intelektual, emosioanal dan spiritual.
Wa’alikumussalam wr. Wb.
Maaf Om,
(i). Saya lebih cocok kata “merubah” pada comment di atas diganti kata ” mempermudah”, sehingga tidak terjadi Pergantian (karena bila terjadi pergantian, mengandung makna bahwa :yang awal gak lagi terpakai toh?).
(ii). Karena ketidaktahuan Saya, Saya bingung, saya ga tau arti “vitual” tu, hingga dari malam tadi Saya mereka-reka, Vitual itu, Virtual, apa Visual ato apa gitu.
Jika yang alamiah itu diandaikan matahari,
Yang sesudah itu diandaikan hujan,
maka kita perlu kedua-duanya untuk melihat Pelangi.
Makaci Om, Kunjungannya ke rumah Daffa,
Wassalam,
Daffa
September 6, 2008 at 3:43 pm
Wah asyiknya suatu kebebasan ya Daffa, Sementara bebas meja makan aja kali ya sampai Daffa agak gedean jadi biar aman “Cincau lah pokoknya” thanks
Love
Bude Yulis
>>>>>Sungguh asyiiik Bude Yulis, seakan-akan dunia diciptakan hanya untukku.
moga-moga Gede nanti gantian Daffa yang bibkinin segala sesuatu tuk semua, tak kecuali Bude Yulis und Pakde Marvin hohoooo…
regards
SDM
September 7, 2008 at 7:51 am
Enak ya lesehan di bawah…. Asal kaki jangan ikut masuk piring ya Daffa…
>>>>>Ueenaaak Nte Imelda, tak terikat oleh perasaan takut jatuh dan yang lebih penting bebas berimprovisasi hehehe..,
September 7, 2008 at 5:24 pm
Merdekanya pakai proklamasi nggak, Daffa?
Eh, sekali-sekali cerita dong tentang kegiatan Opa. Selain “……..” Opa ngapain aja? Hobinya opa apa? Besok Opa diintipin ya, lagi ngapain …
>>>>>Pake donk Bude Tuti, mo denger ga? ngene :
Selain “……..” Opa lebih banyak belajar, belajar memaknai hidup, belajar bersyukur ( liat surah An-Nahl ayat 78 ) belajar bagaimana bisa menjadi orang-orang yang dikehendaki ( simak An-Nur 35 ), menelisik falasah “the happiness of life is to know something about everything und to know everything about some thing”, belajar jadi orang baik orang benar ( berfikir benar, berkata benar berbuat benar ),
hai tirani!.., dengan meriam dan ujung bayonet tak dapat kau penjarakan jiwa kami,
sekarang kami berdiri di sini, satu hati,
terus berjuang,
pengorbanan takkan terbuang sia-sia…. ( sampe sini lupa, ntar tanyain mBah Leo ya Bude!)
belajar ngeblog ( biar go-bloknya berkurang ), belajar …., Bude Instrupsi!!! (bersambung ya Bude, bentar lagi listrik off nih )
salam,
Daffa
September 9, 2008 at 7:11 pm
Opa “……”nya dimana sih? Kalau habis “…….” pasti terus “…….” ya, soalnya kalau nggak “…….” kan jadi “…….” . Qiqiqiqi, bingung nggak, Daffa?
Di sisi terali-terali
setinggi lima kaki
Yang membatasi diriku
dengan keagunganmu
(teruse Bude lali ….. nyuwun ngapunten)
>>>>>Uhuuuu,… “……”nya biarlah jadi rahasia Daffa dan Bude, bukan Opa isin ngelakone “…..”, bahkan Opa sangat bahagia “……” dan hasilnya “super holy” seperti embun >>>> ibarat aaaaair di daun kelaaaadi…
( tapi sayang cepat habis … “tercurah tak meeniggalkan bekaas” ).
“”"”"Di sisi terali-terali
Dah coba-coba mereview tapi kayaknya ga pernah tau Opa syair itu, yang inget :
setinggi lima kaki
Yang membatasi diriku
dengan keagunganmu”"”", >>>> waaah lebih tinggi dari pagar rumahku ki, jadi inget ama Atuk Saleh Djasit aku Bude, sedih hik..hik…
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
tatap hidup dan mati….
makaci Bude, calam Daffa buat putera puterine wis Bude ke’i urung?
September 10, 2008 at 3:30 am
Kok ga ada gambarnya opa? padahal pingin liat es kelapa mudanya….eh pingin liat suasana bebas maja makan
>>>>>Idiiiih Tante Indira, emang resep es kelapa muda pake gambar Opaku nTe???
Meja makan?? maaf Tante urungkan keinginanmu yaaa, Daffa juga ga ngeliat tuh isi meja makan, sejak meja makan Daffa jadikan ladang pembantaian
hehehe…
September 10, 2008 at 10:10 am
Mkasudnya kok ga ada gambarnya, opa? gambar es kelapa mudanya gitu lohhhhhhh….ih si opa kegeeran
>>>>>hayoooo…., ternyata Opa yang salah memaknai kalimat Tante ya???, maafin Opaku ya Nte! pleeeeaaasse….
ketika bencan….ee..peristiwa itu terjadi memori card yna camera lagi penuh, not enough space gitu lohhhhh.
jangan marah lagi ya!.. ntar batal puas A nya.
September 10, 2008 at 3:36 pm
Hihihi … Bude cuma bercanda kok dengan nulis banyak “…”.
Iya deh, Bude menghargai sepenuhnya kalau Opa Dafa ingin “….” nya disimpan aja. Maafin Bude yang lacang ya …
Inget Atuk Saleh Djasit? Begitulah perjalanan hidup manusia, kadang bertahta di atas, kadang terlindas di bawah. Sama juga seperti Atuk Asmun dari Pelalawan …
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
tatap hidup dan mati….
Wah … Bude kok nggak kenal yang ini ya (emang belum pernah salaman sama yang ini …
).
>>>>>Maafin Bude yang lacang ya …Usaah laaah cakap macam tu Bude Tutii….. sedih hati ni mendenga kate-kate macam tu,… hik…hikk..ihiik..
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
ke taman walikota….
sy..sy..sy…..,
sy..sy..sy..sy…,
sy..sy..sy..sy…,
sy..sy..sy..sy..sy..sy., ( sialan eee ma’af maksudnya SIULAN)
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
tatap hidup dan mati…
September 10, 2008 at 3:59 pm
Maafin Bude yang lacang ya …
>>>>>Usaah laaah cakap macam tu Bude Tutii….. sedih hati ni mendenga kate-kate macam tu,… hik…hikk..ihiik..
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
ke taman walikota….
sy..sy..sy…..,
sy..sy..sy..sy…,
sy..sy..sy..sy…,
sy..sy..sy..sy..sy..sy., ( sialan eee ma’af maksudnya SIULAN)
di hari kampung kemesraan
lintas jalan layang
tatap hidup dan mati